Jejak Langkah Sang Penulis Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan Indonesia yang lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah, dan meninggal pada 30 April 2006. Karya-karyanya banyak membahas perjuangan dan ketidakadilan sosial, serta sering kali berhadapan dengan sensor pemerintah. Salah satu karya terkenalnya adalah Tetralogi Buru, yang ditulis saat ia dipenjara di Pulau Buru. Pramoedya menerima berbagai penghargaan sastra internasional atas kontribusinya terhadap literatur dan kebebasan berpikir. Setelah kemerdekaan, Pramoedya aktif menulis bergabung dengan Lekra. Tahun 1960-an "Bumi Manusia" lahir, bagian pertama Tetralogi Buru. Epik tentang Indonesia awal abad ke-20, di bawah penjajahan Belanda. "Bumi Manusia" adalah potret pergulatan ideologi, nasionalisme, dan perjuangan manusia mencari identitas di tengah ketidakadilan. Tragedi G30S mengubah hidup Pramoedya. 14 tahun penjara tanpa pengadilan, namun ia terus menulis. Bebas tahun 1979, Pramoedya terasing dari masyarakat. Namun, karyanya terus mengalir, penuh kritik pada rezim Orde Baru. Pramoedya Ananta Toer telah pergi, namun warisannya abadi. Karya-karyanya terus hidup, menginspirasi untuk berani bersuara dan memperjuangkan keadilan. "Bumi Manusia" adalah jejak langkah Pramoedya, jejak langkah seorang penulis yang tak pernah menyerah pada ketidakadilan.
.jpeg)
https://pin.it/6X9Faqqj2
Ngobrol Bareng: Bagaimana kita melihat Bumi Manusia
Diskusi bareng mengenai karya Pram yang sudah difilmkan yaitu Bumi Manusia digelar sehabis isya diikuti oleh berbagai generasi yang rata-rata adalah pelajar dan anak-anak pegiat literasi juga menghadirkan tiga pembicara lintas generasi. Seperti Ibu Ismu Komariati, yang menjadi saksi sejarah Bumi Manusia di Kediri pada peristiwa 65. Ia bercerita bagaimana hiruk pikuknya melawan PKI pada waktu itu, beliau sebagai anak dari ketua PNI pada masa itu juga menjadi saksi bagaimana orang tuanya menyelamatkan warga Kediri biasa yang ingin diakui sebagai anggota PNI untuk terlindung dari PKI.
Pembicara kedua yakni Mas Kanafi perwakilan dari generasi milenial dan pembicara yang terakhir Kak Fega Nur Aini mewakili Gen Z dan sebagai orang awam yang mengenali karya Pram, mereka menceritakan Bumi Manusia yang dikutip dari film dan novel. Kak Fega mengaku tidak puas dengan mengenal karya Pram tersebut melalui film, karena alur ceritanya yang lebih menonjolkan keromantisan dan mejadi lebih sulit untuk memahami apa yang disampaikan dalam film tersebut. Namun setelah membaca novelnya, dari situ ia memahami cerita sesungguhnya mengenai Bumi Manusia yang sebenarnya tidak hanya berisi tentang percintaan namun juga mengenai perjuangan seorang pemuda pribumi melawan kolonialisme Belanda di awal abad ke-20 untuk mempertahankan kedudukan pribumi.
Performance Art
Selain diskusi, peringatan satu abad Pram juga diwarnai dengan apresiasi seni yang menyajikan beragam puisi. Puisi-puisi tersebut dibawakan oleh anak-anak dari Sanggar Rumah Ilalang, Teater Segara, UKM Teater Kanda, LPM Dedikasi, PPMI DK Kediri, dan ditutup geguritan atau puisi Bahasa Jawa dari Mahanani. UKM Teater Kanda membawakan puisi tentang “Nyai Ontosoroh, Sang Perawan Perlawanan” yang dibawakan oleh Laksmi Kumala Mahayati. Puisi tersebut menceritakan tentang perjuangan dan keteguhan seorang perempuan dalam menghadapi ketidakadilan, khususnya dalam konteks kolonialisme dan patriarki. Nyai Ontosoroh mengalami berbagai permasalaham seperti perampasan hak dan pengkhianatan. Setiap langkah dan nafasnya menjadi simbol perjuangan yang terus hidup. Nyai Ontosoroh tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Jadi, puisi ini bukan sekadar tentang satu tokoh fiksi, tapi juga tentang semangat perlawanan perempuan dalam menghadapi ketidakadilan di berbagai zaman.
 |
Archived by MediakaNda
|
Selain itu perwakilan dari Mahanani yakni Tsania membawakan sebuah geguritan yang sangat menarik berjudul “Sanikem” karya Pak Narno, geguritan tersebut menceritakan tentang ketidak berdayaan perempuan Jawa pada masa lalu. Sanikem merupakan nama asli dari Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia, ia dijual oleh ayahnya kepada Tuan Herman Mellema seorang penjajah Belanda untuk menjadi gundik. Sanikem digambarkan hanya bisa "mingkem" (diam) dalam menghadapi berbagai tekanan dan ketidakadilan yang menimpanya. Geguritan tersebut menggambarkan bagaimana perempuan Jawa pada zaman dahulu seringkali terkekang oleh tradisi dan norma-norma masyarakat yang patriarkis. Mereka tidak memiliki banyak ruang untuk bersuara atau mengambil keputusan atas hidup mereka sendiri. Geguritan ini juga menyinggung tentang harapan akan adanya perubahan. Meskipun "mingkem" (diam) pada awalnya digambarkan sebagai sesuatu yang membawa kedamaian, namun pada akhirnya disadari bahwa hal itu tidak cukup untuk mengubah nasib perempuan.
Kediri, 9 Februari 2025
Penulis : Dulur Ifaaa
Lokasi, tanggal event : Taman baca Mahanani, 7 Februari 2025
Media Partner : MediakaNda
0 Komentar