Teater Sebagai Ruang Perjuangan
Teater Kanda bukanlah nama baru di Kediri. Berdiri sejak tahun 1994, kelompok ini terus menghadirkan karya-karya yang berangkat dari kegelisahan sosial. Mereka tidak hanya menciptakan pementasan sebagai hiburan, melainkan menjadikan panggung sebagai ruang perjuangan kemanusiaan.
Dalam narasi yang dibacakan oleh Kepala Suku UKM Teater Kanda: Ririn Sugiarti, Teater Kanda menegaskan bahwa teater adalah ruang sosial. Ia lahir untuk menyikapi fenomena, menyuarakan keresahan, menumbuhkan kecintaan, sekaligus menyebarkan kebaikan. Teater tidak berhenti pada panggung, melainkan menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri.
Ketua Teater Kanda dalam pernyataannya menyebut, “Sejak awal kami ingin menjadikan teater sebagai ruang perjuangan. Pementasan ini adalah suara kami terhadap ketidakadilan. Seni harus hadir bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai suara rakyat.”
![]() |
| Penulis & Sutradara: Wong KaNda Aktor: Dulur-dulur KaNda |
Mengangkat Realitas Rakyat Tertindas
Karya “Kalu-Kalu” dibuka dengan narasi panjang tentang rakyat “Nagari Kalu-Kalu”. Digambarkan bagaimana mereka jatuh, bangun, tersandung, dan tertindas oleh kekuasaan yang serakah. Sang raja digambarkan lebih peduli pada hiburan dangkal ketimbang pendidikan. Ia memilih menggaji orang yang berjoget dalam rapat nagari ketimbang membayar para pendidik yang mencerdaskan anak-anak. Gambaran itu membuat penonton tersadar, bahwa cerita dalam panggung bukan sekadar fiksi, melainkan potret dari realitas sosial yang begitu dekat.
Pementasan kemudian membawa penonton ke dalam atmosfer yang semakin mencekam. Mahkota biru yang pecah, permata samudra yang terkubur lumpur, hingga surga karang yang hancur menjadi simbol kehancuran akibat kerakusan. Semua dirangkai dalam diksi puitis dan visual panggung yang gelap, dan nyala lilin yang membawa kesan mistis.
Panggung yang Penuh Makna
Teater Kanda memang dikenal dengan gaya pementasan yang sarat simbol. Dalam “Kalu-Kalu”, hampir setiap elemen panggung memiliki makna. Nyala lilin adalah simbol semangat manusia yang tak padam, serta iringan musik jimbe dan tarian menjadi lambang kebebasan tubuh dalam berekspresi dan menyuarakan pendapat.
Di sisi lain, adegan rakyat kecil yang terseret, terhina, dan meminta tolong kepada penonton menjadi potret nyata penderitaan rakyat kecil. Penonton seolah diajak ikut merasakan kesusahan itu, bahkan ikut digugat oleh tatapan kosong para aktor yang berperan sebagai rakyat kecil yang ditindas.
Ketegangan mencapai puncak ketika tokoh “Raja”, simbol penguasa yang rakus, naik ke panggung. Dengan tawa pongah, ia memecut para rakyat kecil, mempermainkan mereka, dan menarik tubuh mereka sesuka hati. Namun perlahan, mereka bangkit. Dengan bahu membahu, mereka melawan dan berhasil melucuti sang raja. Jas, baju, hingga celana dilepaskan, sebelum akhirnya tali yang selama ini mengikat para rakyat dipakai untuk mengikat raja.
Adegan itu diiringi dengan mantra berulang: “KALU KALU KALU KALU LUKAAA…” hingga sang raja tersungkur. Pementasan ditutup dengan seruan lantang para rakyat: “Kami akan merebut apa yang seharusnya milik kami. Kami adalah manusia.”
Seruan itu disambut tepuk tangan panjang penonton. Sebuah penegasan bahwa karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan pesan perjuangan.
Komentar Penonton
Pementasan “Kalu-Kalu” malam itu mendapat sambutan hangat. Banyak penonton yang terhanyut dalam simbol-simbol yang ditampilkan. Ada yang terdiam menyimak, ada pula yang sesekali mengusap mata terharu.
Salah satu penonton mengaku terkesan akan penampilan dari dulur Kanda karena berhasil menghadirkan pementasan penuh makna. “Ini bukan sekadar teater, tapi perlawanan,” katanya singkat.
Menyuarakan
Perlawanan
Pada akhirnya, “Kalu-Kalu” adalah potret tentang rakyat kecil yang berani bangkit melawan. Ia adalah metafora tentang bagaimana suara-suara terpinggirkan mampu menggugat penguasa. Teater Kanda melalui karya ini menegaskan kembali peran seni sebagai media perlawanan.
Lewat simbol lilin, jimbe, tarian, hingga seruan lantang, Teater Kanda membangun kesadaran bersama bahwa perjuangan tak boleh padam. Rakyat boleh tertindas, namun suara mereka tidak akan pernah hilang.
Malam itu, gedung Sport Center UIN Syekh Wasil Kediri bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, melainkan saksi bahwa seni mampu menyatukan jeritan, kegelisahan, dan harapan. Teater Kanda menutup pementasan dengan kalimat penuh cinta: “Kanda… aku… cinta… kau!!!…” sebuah penegasan bahwa seni dan perjuangan akan selalu berjalan berdampingan.
SALAM BUDAYA!!🎭
Tetap tersenyum dan memberikan senyuman💗KANDAA...... AKU CINTA KAUUU🫶🏼💗
---------------------------------------------
Follow Media Sosial Teater KaNda:
Facebook: teaterkanda
Tiktok: teater.kanda
Instagram: @teaterkanda
YouTube: Teater KaNda IAIN Kediri
Web: suarakanda.blogspot.com
Kediri, 30 Agustus 2025
Penulis :
Dulur Ifa
Lokasi, tanggal event :
Gedung Sport Center UIN Syekh Wasil Kediri, 29 Agustus 2025
Media Partner :
Divisi Media Teater KaNda

0 Komentar