sumber:pinterest

PERIHAL HIDUP 

karya: dulur Fitri


        Semua orang pasti memiliki hidupnya masing-masing, tapi bagaimana jika hidup yang kita jalani selama ini, malah diatur  begitu saja dengan orang terdekat kita?

Sama seperti halnya dengan seorang pemuda berambut legam, yang sampai sekarang masih berkutat di meja belajarnya. Ia menghela nafas lelah.

Lalu, menoleh ke arah jam dinding dan ternyata waktu sudah menunjukkan waktu dini hari.

Suara detakan jarum jam yang cepat membuatnya menguap, ia ingin memejamkan matanya, tapi perkataan ayahnya tadi tiba-tiba terlintas begitu saja.

"Sejam lagi Ren. Setelah ini, kamu bisa tidur dan jangan sampai kamu kecewain ayah lagi."Semangatnya pada diri sendiri. Tetapi setelah beberapa menit kemudian, Ia malah tertidur di atas tumpukan buku.

Pagi menyapa hari, sinar matahari mengendap-ngendap masuk ke jendela dan mengusik tidur pemuda yang masih bertahan memejamkan matanya di atas tumpukan buku. Merasa terganggu, ia pun terbangun dan langsung saja pergi ke kamar mandi untuk mengawali rutinitasnya.

Setelahnya, ia turun ke bawah untuk bergabung sarapan dengan keluarganya. "Pagi Yah, Bun."Sapanya. Dan yang di sapa pun tampak enggan membalas dan fokus ke rutinitas masing-masing. Ia  langsung duduk di meja makan, dan ketika akan menyantap sarapannya. Tiba-tiba  sang kepala keluarga bersuara.

"Kamu hari ini mau ujian kan? Ayah harap nilai kamu nggak seperti kemarin, kalau sampai terulang lagi. Ayah nggak akan segan-segan untuk menghukum kamu!

bisa dimengerti Daren?"Tegas sang Kepala keluarga.

"Iya Yah." jawabnya dengan lirih,  mendengar ucapan itu pun Daren sudah tidak selera lagi untuk melanjutkan sarapannya.

Lalu, Ia langsung saja pamit untuk pergi ke sekolah, dan sesampainya di sekolah Ia langsung menelungkupkan kepalanya dan tertidur sebentar. Ketika bel mulai berbunyi dan ujian pun dimulai, Ia langsung berdoa agar dimudahkan untuk mengerjakannya.

Setelah selesai ujian, ternyata nilai langsung keluar di grup orang tua. Ia banyak berharap semoga kali ini semesta berpihak kepadanya, tapi ternyata harapannya pupus begitu saja.

Sesampainya dirumah, ayahnya sudah duduk di ruang tamu untuk menyambutnya. Bukan sambutan kasih sayang yang Ia dambakan selama ini, tetapi sambutan tamparan keras yang menjadi makanannya sehari-hari.

“Lagi dan lagi, kapan kamu bisa banggain ayah hah?”Geram Ayah. Daren mengusap pipi bekas tamparan ayahnya tadi, dan berkata lirih."Maaf yah."Ayah menyeretnya keluar rumah, dan Daren tetap diam tanpa melawan."Kamu hari ini tidur di luar, tetap diam disini dan renungi kesalahanmu!."Suara dobrakan pintu terdengar. Daren yang semula menunduk pun mendongakan wajahnya menatap pintu yang sudah tertutup kembali, isakan tangis yang berusaha Ia rendam pun akhirnya pecah, persetan dengan titah sang Ayah yang menyuruhnya diam, Ia malah pergi dari neraka dunia itu.

Ia menyusuri trotoar dengan dengan segala pikiran dan tubuh yang lelah. Hingga Ia berhenti di sebuah pembatas jembatan dan berpikir. Jika Ia lompat dan jatuh ke bawah sana, apa mungkin Ia akan terlepas dari segala hukuman dan kekangan yang ada? apakah ia akan hanyut dengan tenang seperti halnya air yang ada di bawah sana? Setelah memikirkan semua itu, Ia memejamkan matanya. Lalu, dengan ragu-ragu ia naik ke pembatas jembatan dan bersiap-siap untuk melemparkan diri ke riuk tenang di bawah sana, tapi tiba-tiba sebuah tangan menarik dan mendorongnya ke belakang.

"Lo gila apa gimana sih? kalau lo jatuh di bawah sana, ntar yang ada nambah-nambahin pekerjaannya damkar."Omel seorang pemuda dengan baju urakan bak preman itu. Daren pun tertawa miris, kenapa setiap ingin tenang, selalu ada saja yang jadi penghalang."Itu semua bukan urusan lo, gue udah capek di dunia ini, kalo gue jatuh disana pun pasti bakalan tenang kan? hahahaha." katanya miris sambil menunjuk ke arah sungai.

"Heh Kunyuk! Apa lo nggak mikir kalau lo bunuh diri tuh ya, sama aja lo nggak bakal tenang di akhirat sana. Terus emang lo udah punya cukup amal buat pulang duluan hah? mending nih ya lo ikut gue dulu deh, timbang nanti digondol sama kunti bogel, soalnya disini tuh rawan, hihh"  Omelnya dan menarik Daren secara tiba-tiba.

"Apaan lo main tarik-tarik, gue ga mau ikut."Daren berusaha untuk melepaskan diri dari tarikan tersebut. Tapi tenaganya lebih kuat daripada Daren, dan pada akhirnya Daren pun pasrah mengikuti pemuda gila yang belum dikenali namanya.

Kedua pemuda tersebut berhenti di tempat yang kumuh, di sana banyak orang-orang berpakaian lusuh yang tertidur tak beraturan di jalanan.

Bahkan, ada seorang wanita yang menenangkan bayinya yang sedang menangis karena lapar. Ada pula orang disabilitas yang tertidur kurang nyaman dipeluk angin malam.

"Sebaiknya, sebelum lo nyemplung ke sungai tuh, lo lihat mereka dulu deh"Pemuda itu meliarkan tatapannya ke sekitar, dan diikuti Daren yang melihat mereka dengan tatapan kasihan."Mereka hidup luntang lantung ga jelas, tapi lo tau? mereka masih tetap semangat buat menjalani hidup. Karena apa? karena mereka tahu bakal ada sesuatu yang bisa disyukuri di dunia ini"Ucapnya sembari merangkul bahu Daren.

Ia melihat Daren yang masih mengamati sekitar, dan menepuk bahu sosok rapuh yang baru saja Ia temui."Gue nggak tau masalah lo apa, tapi dengan cukup jalani apa yang sudah ditakdirkan, itu bakal membuahkan hal yang ga bakal terduga nantinya. Walaupun banyak beban atau masalah yang datang silih berganti, tapi lo harus tahu Tuhan tidak memberikan beban ke hambanya, jika hambanya itu mampu. Jadi lo harus bertahan sejauh mungkin sampai Tuhan ngajak lo buat pulang."Pintanya panjang lebar. Dengan tersenyum simpul, Ia memijat bahu Daren bermaksud untuk menguatkan.

Daren yang mendengarkan pun merasa tertampar, ternyata selama ini ia kurang bersyukur, dan selalu memikirkan hal yang membuatnya merasa tersakiti di dunia ini, pemuda itu menepuk pundak Daren lagi.

"Jadi gimana, mau nyemplung lagi nggak?" Tanyanya dengan nada mengejek, Daren menggaruk kepalanya malu dengan pikiran dangkalnya tadi.

"Udahlah mending kita ngopi"Ajaknya. Dan dibalas gelengan tanda tidak setuju oleh Daren.

"Kapan-kapan deh bang gue mau pulang aja, udah tengah malam soalnya" Pemuda tersebut mengangguk kepalanya paham, dan tiba tiba Ia mendorong Daren."Yaudah sana pulang, jangan sampai besok gue denger ada berita ditemukan pemuda mengapung di sungai  ya, hahahah"Ledeknya lagi, Daren menanggapinya dengan tatapan malas, dan pergi begitu saja.

Daren bingung mau bersyukur atau bagaimana, telah dipertemukan dengan pemuda yang tampilanya seperti preman itu, yang entah bisa membawanya ke jalan yang benar.

Sesampainya dirumah, Ia bersandar di samping pintu berusaha untuk tidur, dan berdoa semoga besok lebih baik dari hari ini.

Keesokanya, usapan lembut mendarat di pundaknya, Ia pun terbangun dan mendapati wanita berwajah cantik yang sering kali Ia sebut Bunda.

"Bangun dan masuk kamar, sebelum Ayah kesini."Setelah mengatakan itu, Bunda pun berlalu begitu saja. Daren tersenyum simpul, baru kali ini Ia di bangunkan secara lembut oleh bidadarinya. Ia langsung menuju kamar untuk memulai rutinitasnya.

Daren ragu untuk turun dan menemui Ayahnya, tapi jika Ia pergi begitu saja berarti dia seperti pengecut. Maka dari itu, Ia menuju ke meja makan dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.

"Khem Daren"Deheman Ayah mengalihkan perhatiannya. Ia mendongakkan kepalanya dengan perlahan, dan menatap wajah Ayahnya.

"Maaf soal amarah ayah kemarin, guru kamu bilang ternyata nilai kamu tertukar dengan temanmu, sekali lagi maafkan Ayah ya. Ayah bangga sama pencapaian kamu kemarin"Ucap Ayah dengan nada malu dan berakhir bangga. Tangan yang kemarin menamparnya pun kini beralih menjadi usapan lembut di kepalanya.

Daren yang mendengarnya langsung saja berlari memeluk tubuh Ayahnya."Bunda juga bangga sama kamu nak, maafkan Bunda yang sering acuh ke kamu ya, Bunda sayang sama kamu." Bunda yang berada di samping Ayah ikut memeluk dan mengusap lembut surainya.

Daren tersenyum, benar kata preman  kemarin. Bakal ada sebuah hasil baik yang kita dapatkan, jika kita mau sabar buat menjalaninya.

Jika ini hanyalah mimpi, tolong jangan bangunkan Daren.

Alur Tuhan memang tidak selalu terduga, semua hanya perihal ujian dalam hidup.

Dan mereka yang mau bertahan sampai akhir, akan mendapatkan imbalan atas apa yang telah dipertahankanya.

Jadi jika semua tidak berjalan semestinya, tolong bertahan cukup lama ya?